Rabu, 13 September 2017

Kisah Sang Pohon Cantik



Nun,di sebuah hutan belantara tumbuhlah sebatang pohon yang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan jutaan pohon yang lainnya.
Ia memiliki batang yang sangat lurus dan tegak, akarnya yang kukuh,
serta aroma khasnya yang harum, semerbak, memenuhi seluruh isi hutan.
Sehingga tidaklah menjadi hairan, ramai sekali para pencari kayu bakar yang merasa tertarik kepada pohon itu. Bahkan ramai yang berniat baik untuk turut memelihara keindahan pohon itu.
Dengan senang hati mereka membiarkan pohon tersebut tetap tumbuh.
 Sering kali mereka menyempatkan diri untuk menyiraminya dengan air yang diperoleh dari lubuk bening di pinggir hutan.

Semua itu mereka lakukan dengan penuh harap agar suatu saat kelak,
di alam yang mulai penuh dengan kerosakkan ini,
Sang Pohon Cantik akan tumbuh dengan sejuta pesona.
Memberikan warna perubahan bagi siapa saja,
untuk lebih mencintai lingkungan mereka dan berhenti membuat kerosakan.
Sementara bagi para penebang pohon yang liar,
keberadaan pohon cantik itu sangatlah mengganggu.
Mereka sedar, apabila pohon tersebut tumbuh dengan baik,
maka akan banyak perhatian yang akan tertuju kepada hutan itu.

Perhatian yang tentu saja membuat langkah mereka semakin sulit dalam membuat kerosakan di dalam hutan itu. Para penebang pohon yang liar itu berikrar,
mereka akan memindahkan pohon cantik itu ke halaman rumah-rumah mereka.
Tetapi kalau tujuan itu tidak tercapai, maka mematikan pohon itu adalah cara terbaik yang harus mereka tempuh. Beruntung,
pohon cantik tersebut mendapat penjagaan yang sangat rapi dari para pencari kayu bakar yang baik hati.
Mereka secara bergiliran mengiring berjalan dengan sangat waspada agar pertumbuhan Sang Pohon terjaga . Selain itu, pohon tersebut rupanya memiliki akar yang dapat menumbuh dengan cepat.
Sehingga sari-sari makanan yang ada dalam tanah dapat diserap dengan baik.
Demikian juga dengan air yang ada, dapat digunakan oleh Sang Pohon untuk menampung kehidupannya. Dipendekkan cerita,pohon tersebut telah tumbuh besar,
daunnya yang rimbun menghijau membuat mata tak lelah untuk memandang,
dari dahan-dahannya lahir wangian semerbak harum yang menyeliputi seluruh hutan,
dan satu lagi, pohon cantik tersebut memiliki buah yang sangat manis.
Selain dapat menghilangkan dahaga, juga dapat mengenyangkan para penikmatnya.
Terasalah berkah Sang Pencipta bagi para pencari kayu bakar, meskipun para penebang pohon yang liar masih saja mencari helah untuk selalu menghapuskan pohon itu.
Namun, demikianlah kudrat keberadaan setiap makhluk yang hidup dan tumbuh di atas muka bumi ini, tak satupun yang abadi! Tak terkecuali dengan keadaan pohon cantik yang disanjung para pencari kayu bakar dan seluruh penghuni hutan.

Pada suatu petang, ketika langit mulai gelap, angin pun kencang berhembus.
Pucuk pohon cantik bergoyang dengan hebatnya.
 Ia sekuat tenaga mengimbangi keadaan yang mana pada bila-bila masa boleh menumbangkannya. Sang Pucuk terus bergerak, awalnya hanya berniat untuk mempertahankan diri dari keadaan alam yang ia hadapi. Tetapi lama-kelamaan ia sedar, bahwa sebenarnya ia dapat mengatasi sepenuhnya serangan angin tersebut. Ia yakin benar telah ditampung oleh akar yang kuat, dan dahan-dahan yang kukuh,
serta dedaunan yang dapat menahan laju dan kencangnya angin dengan sempurna.
Kerana keyakinannya itulah tiba-tiba ia membuat sebuah gerakan
yang tidak disangka-sangka oleh Sang Akar, yang sekuat tenaga mencengkam tanah. Sang Pucuk menari, b
ukan hanya mengikut arah angin, namun terkadang ia membuat gerakan yang membingungkan Sang Akar dalam mempertahankan keseimbangannya. Dan,

Sang Akar pun mengeluarkan bantahannya; “Hai,
pucuk. Berhentilah menari! Aku bingung melihatmu!” “Kenapa mesti bingung,
Akar? Aku tahu benar situasi yang ada.
Ikut sajalah!” “Bagaimana aku hendak mengikuti tarianmu,
kalau kamu susah diikuti” “Percayalah, akar.
Aku diatas mampu melihat semuanya.
Bukan hanya batang, daun, dan kau akarku sendiri.
Tetapi jarak puluhan batu di sekeliling kita pun dapat aku lihat dengan jelas” “Hai, apa salahnya aku mengingatkanmu, pucuk?” “Kau salah akar, harusnya kau ikut saja apa kataku.
Kerana posisimu di bawah, dan kau tidak tahu apa-apa tentang dunia ini!” “Aduhai…
angkuh nian kau, pucuk! Kalaulah tak ada aku, mana mungkin kau dapat berdiri dan berada di atas sana!” “Sudahlah, kenapa kalian malah bertengkar, hah?!” Sang Daun menegahi suasana yang semakin panas. “Kerana dia mulai merasa angkuh, daun!” akar mengarahkan serabut akarnya kepada Sang Pucuk. “Apa urusanmu, akar?! Ikuti sajalah kataku, dan kau akan selamat” “Apakah kalian lupa, hah? Kalian itu saling memerlukan! Tidak akan ada kehidupan kalau tidak aku, kau, dan si akar itu.
 Sedarlah, saudaraku! kawanku!” Sang Daun kembali berkata-kata dengan perasaan yang sedih kerana pertelingkahan saudaranya sendiri. Perdebatan demi perdebatan terus bergulir di antara keduanya.
Sang Pucuk tidak merasa harus mengalah sedikit pun terhadap Sang Akar.
Ia merasa bahawa ialah segalanya, dialah ketua kerana berada di tempat yang paling atas.
Ia merasa ditakdirkan Tuhan untuk berada di atas dengan segala penglihatannya yang luas akan dunia ini.

Ia merasa Tuhan telah memberikan kekuasaan mutlak kepadanya untuk berbuat sesuka hati. Sementara, Sang Akar merasa kecewa, Sang Pucuk telah mengambil langkah yang keliru dalam melaksanakan upaya menjaga kelangsungan hidup seluruh bagian pohon tersebut. Dan, Sang Daun yang berusaha meleraikan perdebatan itu pun tak berdaya menenangkan keduanya, meski ia tak pernah merasa lelah untuk mendamaikan perseteruan dua saudara satu tubuh itu.
Waktu yang digariskan mungkin saja telah tiba, kerana perdebatan yang berlarutan itu,
Sang Akar bermalas-malasan untuk menyerap air dan zat-zat yang dibutuhkannya.
Demikian juga Sang Daun, kerana kelelahan melerai perdebatan kedua saudaranya,
ia lupa untuk mengolah makanan meskipun matahari terus bersinar sepanjang hari. Dan,
Sang Pucuk rupanya semakin terlena. Ia tidak menyadari dua saudara dibawahnya sudah mengalami gangguan. Ia tetap berlenggok mengikuti arah angin dengan irama yang menghiburkan hatinya.
Hingga tibalah saat di mana angin justeru berhembus dengan sangat perlahan.

Sang Pucuk terlena kerana desirnya, ia merasa ngantuk dan ia biarkan gerakannya yang tidak beraturan, dan ia pun mulai terpejam.
Terlelap dalam tidur yang tidak disedarinya, dan angin datang menyerang.
Tubuhnya terkulai. Sang Daun yang lapar tidak berdaya menahan tubuh Sang Pucuk yang datang tiba-tiba. Ia ikut terjatuh.
Sementara di bawah,
Sang Akar yang bermalas-malasan tidak lagi memiliki cengkaman yang kuat terhadap tanah di sekelilingnya. Sang Akar tidak berkuasa menahan tubuh kedua saudaranya yang terjatuh lebih dulu.
Ia tercabut, bercerai-berai. Beginilah akhirnya kisah pohon cantik,sebuah cerita yang menyedihkan.Para pencari kayu bakar yang baik hati bermuram durja, sementara para penebang liar bergelak tawa, “Tak perlu kita robohkan, kawan. Mereka roboh sendiri kerana permusuhan…!! ” “O, bahkan tak perlu angin yang kencang rupanya…….kasihan betul…..” demikianlah kata penebang pohon yang liar.
Dari sini saudara-saudaraku dapatkah kita mengambil sedikit iktibar dari cerita ini? Marilah kita jauhi permusuhan yang meleraikan silaturrahim antara kita, janganlah berdendam kerana dendam itu tidak membawa kedamaian..
saling hormat menghormati dan bersatu padulah kita agar syiar Islam dapat diteruskan dan digemilangkan.. dan agar kita tetap menjadi orang yang beriman.. InsyaAllah..

Sekian Dulu Dari Postingan Kami Kali ini Semoga Bermanfaat Amin...

Sabtu, 09 September 2017

6 Cemilan sehat sepulang Anak sekolah

Mengingat mereka, anak-anak akan senang untuk tumbuh dengan diet roti, biskuit dan makanan cepat saji yang sering menimbulkan kecanduan dan tidak sehat.Pada saat seperti itu, tantangan bagi seorang ibu adalah, bagaimana mengemas makanan sehat dan bergizi, yang sering dihindari oleh anak-anak, dengan cara yang mewah dan menggoda yang membuat mereka lebih dan lebih banyak lagi ...
Waktu yang tepat untuk cemilan sehat sering kali sepulang sekolah, di malam hari, saat anak-anak lapar dan tubuh membutuhkan energi dan nutrisi.Tapi jika Anda memanjakan diri dalam mempersiapkan varietas yang melelahkan dan sedang, yang menghabiskan waktu untuk mempersiapkannya, anak Anda akan mencari pilihan sederhana seperti biskuit dan wafer.
Makanya, sama meja kerja kudapan bergizi, penting juga dengan cepat.


 


Bahan: 100 gram paneer parut; 100 gram kacang rebus Prancis dan wortel; satu cangkir ketumbar cincang; satu bawang cincang; satu tsp jeera; jus satu lemon; setengah sdt pepperika merah (mirim shimla merah); satu sdm minyak extra virgin; 100 gram tepung terigu utuh
Cara membuat empat rotis dari whole wheat atta. Parut paneer dan semua bahan ke dalamnya disamping minyak. Tumis dengan minyak dan letakkan di atas roti dan gulingkan. Miliki dengan chutney hijau. Adonan bisa disiapkan sehari sebelumnya. Semua ramuannya bisa dicincang sehari sebelumnya.
Untuk chutney: (Waktu persiapan: 10 menit)
Anda bisa menyediakan chutney dengan kelapa, ketumbar, kacang tanah, cabe hijau, rempah-rempah, dan kapur atau Anda juga bisa menambah bawang merah dan tomat sama, dan rasanya lebih enak. Menggiling semua bahan dalam blender dan menambahkan beberapa udara untuk membuat konsistensi yang tepat.
Tapi karena kelapa mengandung lemak jenuh tinggi seperti lemak jahat, Anda bisa menggantinya dengan chana dal atau udad dal yang bergizi dan sehat.
Anda harus tahu: Karena kelezatan ini mengandung gandum, paneer dan sayuran, ini meningkatkan pertumbuhan dan energi.
2. (Waktu persiapan: 15 menit)
 

Moong Dal chila Bahan: 1 cangkir moong dal (split, hijau hijau hijau), 2-3 cabai hijau, 2-3 bawang bombay, 2 siung bawang putih cincang halus, 1 potong kecil jahe cincang halus atau pasta, ¼ sdt hing (asafoetida ),garam secukupnya
Metode:

    
Cuci moong dal dan rendam minimal 2 jam - lebih lama jika punya waktu.
    
Tiriskan udara dan giling bersama dengan sisa ramuannya.
    
Gunakan air sesuai kebutuhan - ide untuk konsistensi jenis panekuk
    
Panaskan panci non-stick dan oleskan sedikit minyak di atasnya.
    
Menjaga gas pada nyala api rendah, tuangkan satu sendok makan adonan ke tengah dan kemudian oleskan adonan ke arah luar dengan gerakan melingkar menjadi lingkaran tipis.
    
Tambahkan hanya setetes minyak di atas chilla dan setelah itu warnanya berubah menjadi cokelat ke atas untuk memasak di sisi yang lain.
IsianMash beberapa paneer segar (ambil jumlah sesuai kebutuhan anda) dan tambah garam, kapur dan cincang ketumbar segar ke dalamnya. (Anda bahkan bisa menambahkan kubis cincang dan wortel parut ke dalam campuran).
Anda harus tahu: chilla pertama membutuhkan waktu lebih lama untuk memasak. Juga, simpan gas pada api yang sangat rendah saat menuangkan adonan - ini memberi Anda kesempatan yang lebih baik untuk menyebarkan adonan dan membuat chilla lebih tipis. Menggunakan tongkat yang benar-benar bagus kebutuhan minyak sangat rendah. Seseorang juga bisa menggunakan isian yang berbeda untuk membuat chilla jauh lebih enak.
3. (Waktu Persiapan: 20 menit)
 

Go FruityIngredients: Apel dipotong dalam kubus, Pisang dipotong dalam irisan, potongan Chikoo dalam kubus, Strawberry / Kiwi, Whipped Fresh Cream (mudah didapat di India), Lemon, daun Mint, taburan coklat, susu, gula.
Metode: Setelah dibuat buah, potong menjadi kubus (dan irisan pisang). Sekarang campurkan semua potongan buah dalam mangkuk besar dan menambahkan satu sendok makan susu ke dalam campuran dengan satu sendok teh gula bubuk.

 
Sekarang dalam mangkuk penuh buah, tambahkan whipped cream sebanyak yang menurut Anda cocok untuk anak Anda. Untuk hiasan, hiasi piring dengan daun mint di atas krim dan Anda siap!
Anda harus tahu: Jangan terlalu banyak memaksakan buah buah karena itu akan menjadi basah.
Buah-buahan memberikan serat yang merupakan sarana bagi anak-anak yang sedang tumbuh dan seperti ini adalah satu-satunya cara untuk membuat kue buah-buahan!
 

4. Buah MilkshakeMilkshakes (Waktu Persiapan: 10 menit)

    
2 buah pilihanmu (entah pisang, chikus atau mangga)

    
Susu (jumlah yang terdiri satu gelas)

    
Vanilla / Chocolate Ice cream (satu paket keluarga)
Cara: Menggiling buah, susu dan es krim dengan blender.
Sajikan parfum dan dinginkan dengan empat sampai lima es batu!
Anda harus tahu: Milkshake adalah pilihan yang lebih sehat untuk minuman ringan dan minuman



5. Bayam tikki dengan sayuran (Waktu Persiapan: 30 menit)
 

Bayam tikki Bahan: Satu batang bayam dicincang halus; setengah lobak putih parut; satu wortel parut; dua kentang rebus; garam secukupnya; satu-dua sendok teh cabai hijau dan pasta jahe; seperempat cangkir kacang hancur, minyak (baik mustard atau minyak zaitun sebaiknya).
Cara membuat: Campur wortel parut, cabe rawit dan hijau dengan kentang rebus dan bayam halus dan tambahkan pasta jahe ke dalam campuran. Sekarang, buat tikkies kecil (kisi) dari campuran dan sisihkan. Tambahkan sedikit minyak zaitun atau sawi ke atas wajan, dan simpan di api kecil. Kuantitas minyak harus sedemikian rupa sehingga cukup untuk tikkies dipanggang, sampai warninya menjadi coklat kemerahan
(Waktu Persiapan: 10 menit)
Anda bisa menyiapkan chutney dengan kelapa, ketumbar, kacang tanah, cabe hijau, rempah-rempah, dan kapur atau Anda juga bisa menambahkan bawang merah dan tomat sama, dan rasanya lebih enak. Menggiling semua bahan dalam blender dan menambahkan beberapa air untuk membuat konsistensi yang tepat.
Tapi karena kelapa mengandung lemak jenuh tinggi seperti lemak jahat, Anda bisa menggantinya dengan chana dal atau udad dal yang bergizi dan sehat.
Anda harus tahu: Untuk menghemat waktu, kentang bisa direbus satu hari sebelumnya dan sayuran bisa dipotong dan disimpan di lemari es.
6. Masala Idlis
 

Masala Idlis Bahan: 6-7 idlis; satu tomat dicincang halus; satu cangkir capsicum cincang halus; satu bawang cincang halus; satu sendok makan pav bhaji masala; garam secukupnya; satu sendok teh bubuk cabai; segenggam daun ketumbar cincang; satu sdt minyak zaitun
Metode: Potong masing-masing idli menjadi empat bagian. Tumis semua sayuran dengan minyak. Tambahkan masala idli dan ketumbar, aduk rata dan sajikan panas.
Anda harus tahu: Adonan bisa dilakukan sehari sebelumnya atau paling tidak, barang itu bisa dibeli dari pasar dimana barang itu disiapkan dengan segar secara terus menerus, terutama di kota-kota di India.


Sekian Dulu Dari Kmi Tentang.
6 Cemilan sehat sepulang Anak sekolah.
Semog Bermanfaat Buat Semua Amin. 

Rabu, 06 September 2017

Makam Mbah Panggung



DI BAWAH rerimbunan pohon kamboja, makam itu tampak menonjol dari kejauhan.
Agaknya memang sengaja dibangun dalam kapasitas keistimewaan tersendiri, karena bentuknya seperti makam raja-raja Jawa.
Lokasi makam itu juga diberi benteng tembok sebagai pembatas dari makam-makam lainnya.
Itulah makam Sunan Panggung atau orang Tegal menyebutnya Mbah Panggung. Makam Mbah Panggung terletak di wilayah Kelurahan Panggung, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal. Siapakah sebenarnya Mbah Panggung atau Sunan Panggung itu? Dia adalah sama orangnya dengan Sunan Drajat, salah seorang Walisanga.
Putra dari Sunan Ngampel atau Raden Rachmat dari istri yang berasal dari Campa.
Dia, termasuk pangeran terpandai diantara saudaranya.
Ia tidak suka berdiam diri di dalam istana kerajaan dibanding dengan Sunang Bonang, saudaranya, yang lebih suka mendekam di istana.

Sebaliknya Sunan Panggung justru lebih memilih jalan
pengembaraan untuk memperdalam ilmu Agama Islam.
Namun dalam pengembaraannya itu,
semakin hari perbuatannya semakin tak dimengerti banyak
orang dan segala hukum agama diterjang.
Misalnya, ekspresi diri yang berwujud nafsu ‘luwamah’ dan ‘amarah’-nya itu,
telah ia keluarkan dari badan wadagnya berwujud anjing hitam dan anjing merah.
 Kedua anjing itu senantiasa mengikuti ke mana tuannya melakukan perjalanan.
Anjing yang hitam diberi nama ‘Imam’, sedang anjing yang merah dia berinama ‘Tauhid’.
Kalau misalnya Sunan Panggung pergi ke sebuah mushola atau masjid,
edua anjing tersebut mengikuti dan duduk di belakang tuannya sambil mendengarkan tuannya mengaji atau melakukan sholat. Tingkah lakunya yang neka-neka dan aneh-aneh itu, menyebabkan banyak orang tidak menyukai dan mencela habis-habisan.
Namun perbuatan itu tidak digubrisnya hingga menjadi sebuah berita yang menggemparkan.
Sementara Sunan Bonang yang pernah mengikuti perjalanan Sunan Panggung ke suatu daerah, melihat ajaran yang menyimpang dari Agama Islam.
Maka ia pun melapor kepada para Walisanga dan Sultan Bintoro (Demak).

 Mendengar laporan itu, para Walisanga mengadakan musyawarah besar-besaran di Demak untuk membahas tingkah laku Sunan Panggung. Dalam musyawarah itu, hadir juga Sultan Demak. Sunan Panggung kemudian dipersalahkan telah berlaku kafir dan kufur.
Maka atas usulan Sunan Bonang, Sultan Panggung harus menjalani hukuman mati dengan cara dibakar di ‘tumangan’ (api unggun).
Hal itu dikarenakan, Sunan Panggung dipersalahkan telah meninggalkan sarak Nabi atau syariat serta memberikan pelajaran ilmu sejati dengan menjalankan shalat daim yaitu shalat di dalam batin. Dipanggilnya Sunan Panggung ke Demak untuk menjalani hukuman itu.
Sunan Panggung menyanggupi dengan syarat ada utusan yang datang untuk memanggul dua anjing piaraannya yang katanya sedang sakit.
Syarat itu dipenuhi, Sultan Demak mengutus abdi dalem untuk datang ke tempat pengembaraan Sunan Panggung. Walau pekerjaan itu sangat hina, namun abdi dalelm Kerajaan Demak sendiko dawuh. Berangkatlah ia ke hadapan Sunan Panggung, dan tidak berapa lama mereka menghadap Sultan Demak dan para Walisanga.
Setelah Sunan Panggung tiba di Demak, diberitahukan tentang hasil kebulatan musyawarah para Walisanga dimana ia harus menjalani hukuman mati dengan jalan dibakar.

Ternyata, Sunan Panggung tidak gentar sedikitpun karena semua itu adalah kehendak Tuhan. Detik-detik berikutnya, para abdi dalem mengumpulkan kayu bakar dan tidak lama api berkobar-kobar. Pelaksanaan hukuman pembakaran Sunan Panggung yang terjadi tahun 1452 itu disaksiskan oleh para abdi dalem dan lapirasan masyarakat Bintoro.
Sebelum Sunan Panggung melaksanakan hukuman bakar diri itu, dia meminta restu pada Sulatan Demak agar disediakan ‘nasi tumpeng’.
Permintaan itu dikabulkan, akan tetapi setelah nasi itu diberikan, dilempar ke tengah-tengah api yang menyala-nyala.
Sertamerta kedua anjing piaraannya memburu masuk ke dalam kobaran api.
Ajib! Kobaran api yang membara, padam dan kedua anjing itu ke luar dari
 tumpukan kayu dengan selamat dan tidak terluka sama sekali.
Para Walisanga dan Sultan Demak menjadi terkesima.
Di tengah kemasgulan itu, Sultan Demak berkata: “Duh ta paman,
sampun nyumerepi ing keh lampah élok; nanging maksih
kirang utaminé lamun mboten andika pribadi kang umanjing agni;
kirang antepipun dèné among asusilih kirik lan tarumpah karo” yang artinya ‘Duh Paman,
sudah kami saksikan peristiwa yang masgul; akan tetapi masih belum sempurna
kalau bukan paduka pribadi yang masuk ke dalam
kobaran api; kurang meyakinkan jika hanya diganti
oleh anjing dan nasi tumpeng saja’.
Dengan tenang Sunan Panggung berkata: “Duh Jeng Sultan sampun kuatir,
manira pribadi kang umanjing latu” yang artinya: ‘Duh Paduka Sultan,
jangan kuatir, kalau saya sendiri yang bakal masuk ke dalam bara api’.
Permintaan pelakskanaan hukuman mati bagi Sunan
Panggung pun datang dari adiknya yang tahu bagaimana kesaktian dia.

Yaitu agar hukuman tersebut dilaksanakan dengan sempurna,
dan hendaklah dia sendiri yang menjalankannya.
Permintaan adiknya yang menjadi Ratu Bintoro (Demak)
itu dipenuhi juga dengan satu permintaan agar kepadanya
diberi kertas dan tinta.
Sebab ia hendak menulis sesuatu pedoman agar nantinya
dapat diterima dihadirat Tuhan.
Selanjutnya, setelah api dinyalakan kembali oleh Patih Demak,
Sunan Panggung mengambil alat tempat duduk dan
menaruhnya di tengah-tengah api.
Segeralah dia terjun ke dalam api dengan diikuti oleh kedua anjingnya.
Setelah api padam, musnahlah Sunan Panggung berikut
kedua anjingnya dengan meninggalkan sebuah suluk (pedoman)
yang belakangan dikenal orang dengan nama ‘Suluk Malang Sumirang’.
Maksud dari sulut tersebut adalah suatu peringatan
kepada para orang muda agar jangan buru-buru mengambil
keputusan terhadap seseorang yang nampaknya menyalahi
segala hukum (Malang Sumirang) dan tidak menurut syareat
sebagai kafir dan kufur.
 Sebab, mungkin orang itu pada hakekatnya lebih berdekatan dengan Tuhan.
Begitulah sepenggal kisah Sunan Panggung atau Mbah
Panggung yang juga bernama Syech Abdulrachman dengan
gelar Sunan Geseng, Sunan Drajat atau Pangeran Panggung (kata Pangeran berasal dari kata ‘pengerehan atau pemimpin’).
Nama Drajat dari Mbah Panggung adalah nama waktu kecil.
Namun sejauh itu, para ahli sejarah tidak seorangpun yang menetapkan
di mana ia bertempat tinggal yang membekas, atau di mana ia meninggal
dunia atau dimakamkan.
Makam Mbah Panggung yang ada di Tegal itu,
bisa jadi hanyalah sebuah petilasan.
Tapi ajaibnya, dari berbilang tahun, makam itu
seperti telah menjadi sebuah mitos.
Keberadaannya memiliki daya sedot luar biasa bagi para peziarah.
Tidak hanya dari kalangan masyarakat biasa, melainkan
berbagai pejabat dari manapun berdatangan. 

Sedemikian kharismatiknya Mbah Panggung,
sampai masyarakat di sana pun begitu alergi terhadap
kesenian wayang. Entah kenapa hal itu terjadi, konon
kabarnya Mbah Panggung kurang suka terhadap kesenian
wayang digelar di wilayahnya karena merupakan daerah
 kesucian atau keputihan.
Masyarakat Panggung kemudian percaya, pertunjukkan
wayang akan mengundang bencana dan dhemit.
Itulah sebabnya, dari berabad lamanya masyarakat
Panggung tak pernah berani menanggap wayang.
Sampai sekarang, para dalang pun mempercayai kalau Panggung menjadi daerah pamali (*)

Sekian Dulu Postingn Kami Kali Ini Tentang Makam Mbah Panggung
Semoga Bermanfat Amin..

Selasa, 05 September 2017

Kumpulan Gambar Pemandangan Gif